LABUAN BAJO- FAKTA TIMUR
Suasana di kawasan wisata Gua Batu Cermin pada Minggu (8/3/2026) tampak berbeda dari biasanya. Ratusan pengunjung yang datang disuguhi pertunjukan seni budaya Manggarai yang dibawakan oleh anak-anak usia dini.

Sebanyak 100 anak dari jenjang TK dan SD di Labuan Bajo tampil dalam pentas seni tradisional yang menampilkan tarian caci, tarian sanda, serta permainan musik tradisional Manggarai.

Dengan mengenakan kostum khas caci, para peserta putra tampil percaya diri di hadapan penonton. Mereka mengenakan panggal atau topi tradisional, kain songket Manggarai, serta lonceng kecil yang terikat di pinggang dan berbunyi mengikuti setiap gerakan.

Dalam irama musik tradisional, anak-anak memperagakan gerakan dasar caci seperti memukul, menangkis, hingga gerakan paci dan lomes yang telah mereka pelajari selama pelatihan.
Sementara itu, peserta putri tampil anggun mengenakan balibelo dengan bawahan sarung songket Manggarai. Mereka menarikan tari sanda dengan gerakan yang lembut dan kompak, diiringi alat musik tradisional yang dimainkan oleh peserta workshop lainnya.
Meski masih berusia dini, anak-anak mampu menampilkan pertunjukan yang rapi dan penuh semangat. Setiap gerakan sederhana yang mereka tampilkan menggambarkan semangat pelestarian budaya yang mulai ditanamkan sejak usia muda.
Hasil Workshop Sejak Februari
Pementasan tersebut merupakan puncak dari kegiatan Workshop Caci Anak Usia Dini yang berlangsung sejak 20 Februari 2026.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif pengembangan ruang publik seni yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan digagas oleh Mardaniyanti, seniman kreatif yang juga menjabat Sekretaris Umum Sanggar I Production Labuan Bajo.
Menurut Mardaniyanti, pengenalan caci kepada anak-anak merupakan langkah penting untuk menjaga keberlangsungan kesenian tradisional Manggarai.
“Selama ini caci identik dengan pertunjukan orang dewasa. Padahal anak-anak juga bisa mempelajari nilai dan gerakan dasarnya dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, memperkenalkan caci sejak dini diharapkan dapat membangun kecintaan anak-anak terhadap budaya lokal sekaligus menjaga regenerasi pelaku seni tradisional di Manggarai.
“Kami ingin anak-anak mengenal caci sejak dini agar kesenian ini terus hidup dan berkembang. Siapa tahu, dari mereka akan lahir generasi baru yang membawa caci ke panggung yang lebih luas, bahkan ke tingkat internasional,” katanya.
Libatkan Anak dari Berbagai Sekolah
Workshop tersebut melibatkan 100 anak dari sejumlah lembaga pendidikan di Labuan Bajo, di antaranya SDN Labuan Bajo 1, KB Kanawa, TK Pembina, SDN Batu Cermin, SD Lancang, SDI Waemata, SDK Familia, KB Bajo Kiddy, dan SLB Labuan Bajo.
Selama proses pelatihan, para peserta mendapatkan pendampingan dari mentor profesional yang terdiri dari pelatih caci, pelatih tari, serta mentor musik tradisional.
Metode pelatihan disusun secara edukatif dengan mempertimbangkan keamanan dan kreativitas anak-anak. Latihan dilakukan secara bertahap dengan fokus pada pengenalan gerak dasar, ritme musik, serta kekompakan dalam pertunjukan.
Menariknya, sebagian besar pelatihan dilakukan langsung di sekolah-sekolah peserta. Kegiatan dijadwalkan pada pagi hingga sore hari agar tidak mengganggu proses belajar mengajar.
Mengenalkan Caci kepada Publik dan Wisatawan
Pentas di Gua Batu Cermin menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak untuk menampilkan hasil latihan mereka sekaligus memperkenalkan versi caci anak kepada masyarakat luas.
Selain menjadi sarana edukasi budaya, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo.
Melalui program ini, penyelenggara berharap kesenian caci tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang sebagai identitas kreatif generasi muda Manggarai yang mampu tampil di berbagai panggung budaya di masa depan.
Penulis : Emanuel
Editor : Tim Redaksi
