Halmahera Selatan– Ikatan Pelajar Mahasiswa Sekely (IPMS) kembali angkat suara dan mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Halmahera Selatan agar segera mengambil langkah tegas dan konkret terkait pemasangan jaringan listrik PLN di Desa Sekely, Kurunga, dan Yomen, Kecamatan Gane Barat Selatan. Hingga kini, tiga desa tersebut masih hidup tanpa aliran listrik, sementara desa-desa lain di wilayah yang sama telah lebih dulu menikmati fasilitas dasar tersebut.
IPMS menilai kondisi ini mencerminkan lemahnya komitmen dan pengawasan Pemda Halmahera Selatan dalam memastikan pemerataan pembangunan, khususnya di sektor kelistrikan. Padahal, listrik merupakan kebutuhan dasar yang sangat vital bagi masyarakat, baik untuk menunjang aktivitas rumah tangga, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga peningkatan ekonomi warga desa.
Koordinator IPMS, Firhat Ruslan, menegaskan bahwa keterlambatan pemasangan PLN di Desa Sekely, Kurunga, dan Yomen tidak dapat lagi ditoleransi. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan desa-desa lain di wilayah Gane, seperti Desa Gane Dalam dan beberapa desa sekitarnya, yang saat ini sudah menikmati aliran listrik PLN secara normal.
“Ini adalah bentuk ketimpangan pembangunan yang sangat nyata. Desa-desa lain sudah terang, sementara Desa Sekely dan dua desa lainnya masih terus dibiarkan hidup dalam kegelapan. Seharusnya Pemda Halmahera Selatan lebih serius dan adil dalam memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat,” tegas Farhat.
Menurutnya, lambannya pemasangan PLN bukan semata persoalan teknis, melainkan juga akibat dari kurangnya pengawasan dan minimnya keberpihakan Pemda terhadap desa-desa yang berada di wilayah terluar. Ia menilai, jika pengawasan dan koordinasi dengan pihak terkait, termasuk PLN, dilakukan secara maksimal, persoalan ini seharusnya sudah lama diselesaikan
“Kami melihat Pemda terkesan abai. Tidak ada langkah konkret yang benar-benar dirasakan masyarakat. Setiap tahun hanya janji, sementara rakyat tetap hidup dalam gelap,” ujarnya.
IPMS juga menyoroti dampak serius dari belum tersedianya listrik terhadap kehidupan masyarakat. Anak-anak sekolah kesulitan belajar pada malam hari, aktivitas ekonomi warga menjadi terbatas, dan pelayanan sosial masyarakat tidak berjalan optimal. Kondisi ini, kata Farhat, semakin memperlebar kesenjangan antara desa yang sudah berlistrik dan desa yang belum.
Keluhan keras juga datang langsung dari masyarakat Desa Sekely. Warga mengaku merasa sengsara karena setiap malam harus menjalani kehidupan tanpa penerangan yang layak. Ketergantungan pada lampu minyak dan genset menjadi beban tambahan, baik dari sisi ekonomi maupun keselamatan.
“Kami merasa seperti tidak punya pemerintah. Setiap malam kami hidup dalam kegelapan, sementara desa lain sudah terang benderang. Sampai kapan kami harus bersabar?” ungkap salah satu warga dengan nada kecewa.
Atas kondisi tersebut, IPMS menuntut Pemda Halmahera Selatan agar segera mengambil kebijakan strategis dan memastikan pemasangan jaringan PLN di Desa Sekely, Kurunga, dan Yomen menjadi prioritas utama. IPMS juga menegaskan akan terus mengawal persoalan ini dan tidak menutup kemungkinan melakukan aksi lanjutan jika tuntutan masyarakat terus diabaikan.
“Listrik adalah hak dasar rakyat, bukan hadiah. Jika Pemda terus diam, maka kami akan terus bersuara,” pungkas Farhat
( Red/Afrisal )
