Halmahera Barat, Loloda – Jalan penghubung Goin–Kedi yang menghubungkan Kecamatan Ibu dengan Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, dilaporkan ambruk dan tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Kerusakan parah ini terjadi pascabanjir yang melanda wilayah tersebut beberapa hari lalu. Hingga Senin (9/2/2026), kondisi jalan masih belum mendapat penanganan, sehingga aktivitas masyarakat lumpuh total.
Sejumlah titik di sepanjang ruas jalan tersebut dilaporkan mengalami longsor dan retakan serius. Padahal, jalan tersebut baru selesai dikerjakan kurang dari satu tahun. Kerusakan ini menimbulkan kekecewaan dan keresahan warga, khususnya para sopir angkutan umum yang menggantungkan hidup dari akses jalan tersebut.
Salah satu sopir taksi rute Ibu–Loloda, H.G, mengungkapkan bahwa kondisi jalan saat ini sangat mengkhawatirkan. Ia menyebutkan terdapat banyak titik rawan longsor yang sewaktu-waktu dapat ambruk lebih parah, terutama saat hujan deras.
“Ada banyak titik jalan yang rawan longsor dan sekarang sudah rusak parah. Padahal mata pencaharian kami cuma dari sopir. Kalau jalan rusak begini, torang mo cari makan bagaimana,” ujar H.G.
Menurutnya, jalan tersebut belum lama selesai dikerjakan namun kini sudah ambruk di beberapa bagian. Ia khawatir jika tidak segera ditangani, kerusakan akan meluas.
“Kalau tidak cepat diperbaiki, pasti rusak semua. Apalagi ini musim hujan, sedikit-sedikit longsor. Torang sopir cuma berharap pemerintah cepat tangani, supaya torang masih bisa cari doi untuk keluarga,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga Loloda lainnya, JK, yang kerap melintasi jalan tersebut. Ia mengatakan kerusakan jalan sangat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk urusan penting ke ibu kota kabupaten.
“Memang benar jalan sudah banyak yang rusak. Beberapa titik sudah retak, dan kalau hujan turun pasti lebe parah. Aktivitas torang ke kabupaten jadi terhalang. Jalur laut juga tidak selalu aman karena cuaca buruk. Kalau jalan rusak, semua aktivitas torang bisa lumpuh total,” jelas JK.
Ia berharap pemerintah daerah segera turun tangan memperbaiki ruas jalan tersebut agar mobilitas masyarakat kembali normal.
Sementara itu, H.G menambahkan bahwa saat ini warga dan sopir terpaksa membuat jembatan darurat dari batang kelapa untuk bisa melintas. Namun, jembatan tersebut tidak akan bertahan lama karena kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Torang sudah buat jembatan darurat dari batang kelapa, tapi itu tidak akan tahan lama. Kalau hujan dan panas terus, pasti rusak. Tapi kalau tidak buat begitu, torang sopir sama sekali tidak bisa jalan dan tidak bisa cari makan,” katanya.
Sopir lainnya, Ringgo Sulo, juga mengungkapkan kekhawatirannya. Ia mengingatkan bahwa sebelum jalan tersebut dibangun, masyarakat Loloda kerap mengalami kesulitan parah saat musim hujan, terutama akibat banjir di Kali Butu.
“Dulu sebelum jalan dibangun, torang stengah mati kalau musim hujan. Kalau banjir di Kali Butu mengamuk, torang bisa tunggu berjam-jam bahkan berhari-hari baru bisa lewat,” ungkap Ringgo.
Ia menambahkan bahwa meski jembatan penghubung di Kali Butu kini sudah selesai dibangun dan bisa dilintasi, kerusakan jalan justru menjadi masalah baru yang tidak kalah serius.
“Sekarang jembatan sudah bagus, tapi jalan rusak. Jadi torang sebagai masyarakat asli Loloda dan juga sopir sangat berharap pemerintah daerah jangan tunggu momen baru perhatikan. Tolong lihat torang pe jalan sekarang,” tegasnya.
Ringgo menutup dengan harapan agar pemerintah daerah segera melakukan perbaikan sebelum kerusakan semakin meluas.
“Kalau dibiarkan berlarut-larut, jalan ini akan rusak lebih parah. Torang masyarakat Loloda hanya minta satu, supaya jalan ini cepat diperbaiki, agar torang tidak stengah mati kalau mo pigi ke Ibu atau Jailolo,” tutup Ringgo.
Redaksi: Titus
