Sulawesi Selatan –.Jum’at 20 Maret 2026, Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan, termasuk memanjatkan doa sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Doa akhir Ramadhan menjadi salah satu bentuk harapan agar seluruh ibadah yang telah dijalankan selama sebulan penuh dapat diterima oleh Allah SWT.
Dalam literatur klasik Islam, seperti kitab Lathaif Al-Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali, disebutkan bahwa para sahabat dan generasi salaf memiliki kebiasaan berdoa hingga enam bulan setelah Ramadhan agar amal ibadah mereka diterima. Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian mereka terhadap kualitas ibadah, bukan sekadar kuantitas.
Perpisahan dengan bulan Ramadhan seringkali menghadirkan rasa haru dan kekhawatiran. Umat Islam diingatkan untuk tidak hanya bersedih, tetapi juga menumbuhkan harapan agar dapat dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun berikutnya dalam keadaan sehat dan penuh keimanan.
Memasuki sepuluh hari terakhir, umat Islam juga berlomba-lomba meningkatkan ibadah untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Amalan seperti zikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, hingga memperbanyak doa menjadi bagian penting dalam mengisi waktu yang tersisa.
Salah satu doa yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah RA dan kerap diamalkan di penghujung Ramadhan adalah sebagai berikut:
Teks Arab:
اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِيْ مَرْحُوْمًا وَلاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا
Teks Latin:
Allahumma laa taj’alhu aakhiral ‘ahdi min shiyaamina iyyaahu, fa in ja’altahu faj’alnii marhuuman wa laa taj’alnii mahruuman.
Artinya:
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau menetapkan (sebagai puasa terakhir), maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi dan janganlah Engkau jadikan aku orang yang malang (diharamkan dari rahmat-Mu).”
Doa ini mencerminkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus harapan besar akan rahmat Allah SWT. Dalam pandangan Ibnu Taimiyah sebagaimana tertuang dalam Majmu’ Fatawa, akhir dari sebuah amal atau khatimah sangat menentukan nilai keseluruhan ibadah seseorang.
Dengan demikian, momentum akhir Ramadhan menjadi waktu yang sangat berharga untuk memperbaiki diri, memperbanyak doa, dan berharap agar seluruh amal ibadah diterima serta mendapatkan keberkahan yang berkelanjutan.
Penulis : Mj@.19) *
