Tujuh puluh sembilan tahun bukan sekadar hitungan usia. Ia adalah jejak panjang perjuangan, ruang pengabdian, sekaligus bukti bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) masih berdiri sebagai rumah besar bagi lahirnya kader yang memiliki gagasan dan ikhlas mengabdi terhadap Umat dan Bangsa.
HMI merupakan rumah atau tempat bagi banyak insan muda yang datang dengan latar belakang berbeda, luka yang beragam, dan mimpi yang sering kali belum bernama. Di HMI, kami belajar bahwa rumah bukan hanya soal bangunan, tetapi soal nilai, perjumpaan, pengabdian dan proses pendewasaan.
HMI adalah rumah ideologis. Di sinilah nilai keislaman dan keindonesiaan dipertemukan, diperdebatkan, lalu dirumuskan ulang agar tetap relevan dengan zaman. Rumah ini mengajarkan bahwa iman harus berpadu dengan ilmu, dan ilmu wajib berpihak pada kemanusiaan. Dari forum-forum kecil hingga mimbar-mimbar besar, HMI mendidik kami untuk berpikir kritis, bersikap berani, dan bertindak bertanggung jawab.
Sebagai rumah, HMI tidak selalu sempurna. Ada riuh perbedaan, konflik pemikiran, bahkan kekecewaan. Namun justru di sanalah maknanya rumah, sebagai tempat bertumbuh, bukan tempat yang steril dari masalah. Rumah mengajarkan kita bertahan, berdialog, dan saling menguatkan. Di ruang-ruang diskusi yang sunyi, di tengah keterbatasan, kader HMI ditempa untuk memahami bangsanya, mengenali luka-luka sosial, membaca ketimpangan, dan merumuskan tanggung jawabnya sebagai insan akademis yang bertanggung jawab.
Memasuki usia ke-79, tantangan HMI semakin kompleks. Krisis moral, ketimpangan sosial, degradasi demokrasi, hingga persoalan kemanusiaan menuntut kehadiran kader HMI yang tidak hanya lantang dalam wacana, tetapi juga nyata dalam kerja-kerja sosial dan keberpihakan. Rumah ini harus tetap hidup, bukan hanya sebagai simbol sejarah, tetapi sebagai ruang pembentukan karakter dan keberanian moral.
HMI bukan milik segelintir orang, bukan milik satu generasi, apalagi milik kepentingan sesaat. Ia adalah milik seluruh kader yang pernah, sedang, dan akan berproses. Tugas kita hari ini adalah menjaga rumah ini tetap inklusif, progresif, dan berorientasi pada cita-cita Keumatan dan Kebangsaan.
Selamat Dies Natalis HMI ke-79.
Semoga HMI terus menjadi rumah yang meneduhkan, sekolah perjuangan, dan lentera perubahan, tempat kita pulang untuk menguatkan niat, lalu berangkat kembali untuk mengabdi.
Khidmat HMI untuk Indonesia adalah ikrar panjang yang tak pernah selesai. Selama negeri ini masih menyisakan ketimpangan, selama rakyat masih membutuhkan pembelaan, selama nilai-nilai KeIslaman dan KeIndonesiaan harus terus diperjuangkan, di situlah HMI akan terus hadir.
Penulis: Alfian M. Hamzah
Tim Redaksi
