MAKASSAR — TNI Angkatan Udara mengerahkan pasukan elit Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) ke kawasan ekstrem Puncak Bulusaraung, Sulawesi Selatan, untuk menjangkau lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500. Operasi ini dilakukan sebagai bagian dari misi evakuasi udara dan investigasi awal di medan yang sulit dijangkau.
Pasukan Kopasgat diterjunkan dengan dukungan penuh unsur Basarnas, TNI AU, serta instansi terkait lainnya. Tantangan geografis berupa lereng terjal, vegetasi lebat, serta cuaca yang tidak menentu menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan misi kemanusiaan tersebut.
Sumber di lapangan menyebutkan, tim harus menempuh jalur ekstrem dengan teknik mountaineering dan taktik tempur medan berat guna mencapai titik koordinat lokasi jatuhnya pesawat. Fokus utama operasi adalah memastikan keamanan area, melakukan pencarian korban, serta mengevakuasi jenazah maupun material pesawat untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
“Ini bukan sekadar operasi evakuasi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab negara dalam menjamin keselamatan penerbangan dan mengungkap penyebab insiden,” ujar salah satu perwira TNI AU yang terlibat dalam operasi.
Sinergi lintas instansi menjadi kunci keberhasilan misi ini. Basarnas berperan dalam pencarian dan penyelamatan, sementara TNI AU melalui Kopasgat memastikan penguasaan medan dan pengamanan lokasi kejadian.
Hingga saat ini, proses evakuasi masih berlangsung dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan keselamatan personel. Seluruh temuan di lapangan akan menjadi bagian penting dalam investigasi resmi guna mengungkap penyebab jatuhnya pesawat ATR 42-500 tersebut.
Operasi di Puncak Bulusaraung ini menegaskan kesiapsiagaan TNI AU dalam menghadapi situasi darurat sekaligus memperlihatkan dedikasi aparat dalam menjalankan misi kemanusiaan di medan paling ekstrem sekalipun.
Tim Redaksi
