Villarreal akan menghadapi ujian paling krusial musim ini saat menjamu Ajax Amsterdam pada matchday ketujuh league phase Liga Champions 2025/2026. Pertandingan yang digelar di Estadio de la Cerámica, Rabu (21/1/2026) dini hari WIB, dipastikan menjadi laga hidup dan mati bagi kedua tim yang sama-sama terpuruk di papan bawah klasemen.
Hingga berakhirnya matchday keenam, Villarreal dan Ajax berada dalam situasi yang jauh dari kata ideal. Ajax tercecer di peringkat ke-34 dengan koleksi tiga poin, sementara Villarreal justru lebih mengenaskan karena berada satu tingkat di bawahnya dengan hanya satu poin. Posisi tersebut membuat margin kesalahan nyaris nol bagi kedua klub yang sama-sama punya sejarah panjang di kompetisi Eropa.
Secara matematis, peluang untuk lolos ke babak playoff masih terbuka, namun syaratnya mutlak: menang di matchday ketujuh dan kedelapan. Kegagalan meraih tiga poin pada laga ini hampir pasti akan menutup pintu menuju fase gugur. Tak heran jika duel Villarreal kontra Ajax disebut sebagai “final lebih awal” bagi dua raksasa yang tengah kehilangan taji.
Villarreal datang ke laga ini dengan beban berat. Kapal Selam Kuning masih belum mencatatkan satu pun kemenangan di fase liga Liga Champions musim ini. Kekalahan 2–3 dari Copenhagen di kandang sendiri pada laga sebelumnya semakin memperpanjang catatan buruk mereka menjadi sembilan pertandingan tanpa kemenangan di Eropa. Di bawah asuhan Marcelino Garcia Toral, Villarreal kerap menunjukkan permainan kompetitif, namun berulang kali kehilangan fokus di momen krusial hingga harus membayar mahal kesalahan sendiri.
Masalah utama Villarreal terletak pada ketidakmampuan menjaga konsistensi permainan. Mereka sering tampil dominan dalam penguasaan bola, namun rapuh saat transisi bertahan. Pola ini membuat Villarreal kerap tertinggal lebih dulu dan kesulitan mengejar ketertinggalan, sebuah situasi yang kembali berpotensi menjadi bumerang saat menghadapi Ajax.
Di kubu tamu, Ajax sedikit bernapas lega setelah akhirnya memutus tren negatif di Liga Champions. Kemenangan 4–2 atas Qarabağ pada laga tandang terakhir menjadi kemenangan perdana De Godenzonen di kompetisi musim ini. Dua gol Oscar Gloukh pada laga tersebut tak hanya menghadirkan tiga poin, tetapi juga memulihkan kepercayaan diri tim yang sebelumnya selalu kebobolan minimal dua gol di setiap pertandingan Eropa.
Meski demikian, performa Ajax masih jauh dari kata stabil. Inkonsistensi di lini belakang serta absennya sejumlah pemain kunci membuat tim asuhan Fred Grim rawan goyah, terutama saat bermain di bawah tekanan publik lawan. Kekalahan telak 0–6 dari AZ Alkmaar di ajang domestik juga menjadi alarm keras bahwa Ajax masih menyimpan banyak pekerjaan rumah.
Dari sisi taktik, laga ini diprediksi berlangsung menarik. Villarreal akan berusaha mengendalikan tempo permainan melalui penguasaan bola dan sirkulasi umpan yang dipimpin Dani Parejo di lini tengah. Tuan rumah diperkirakan mencoba memperlambat ritme, menutup ruang gerak sayap Ajax, serta meminimalkan duel terbuka yang berisiko.
Sebaliknya, Ajax dipastikan tampil agresif sejak menit awal. Tempo cepat, tekanan tinggi, dan eksploitasi sisi sayap Villarreal akan menjadi senjata utama tim tamu. Ajax juga akan berupaya memaksa Villarreal melakukan recovery defensif yang berat, sebuah skenario yang kerap membuat lini belakang tuan rumah kehilangan organisasi.
Menariknya, kedua tim menghabiskan lebih dari 60 persen menit permainan mereka di Liga Champions musim ini dalam kondisi tertinggal. Fakta tersebut menegaskan betapa rapuhnya mental dan struktur permainan Villarreal maupun Ajax. Gol cepat diyakini akan menjadi faktor kunci yang dapat mengubah dinamika laga secara drastis. Namun jika skor bertahan imbang hingga memasuki babak kedua, tekanan psikologis dan rasa cemas diprediksi lebih dominan dibanding keberanian untuk menyerang.
Bagi Villarreal dan Ajax, laga ini bukan sekadar pertandingan fase liga. Ini adalah momen pembuktian, sekaligus hari penghakiman. Dua klub besar Eropa yang terbiasa tampil di panggung elite kini dipaksa berjuang dari titik nadir, mempertaruhkan harga diri dan nasib mereka di Liga Champions. Satu kemenangan bisa menjaga harapan tetap hidup, sementara satu kekalahan berpotensi menjadi akhir dari perjalanan Eropa musim ini.
Tim Redaksi
