Gowa, Sulawesi Selatan | Fakta Timur —
Nilai-nilai adat dan kearifan lokal masyarakat Butta Gowa kembali terjaga melalui pelaksanaan prosesi adat Ammutuli Pangrita yang digelar oleh keluarga besar Muh. Jufri Dg. Sijaya, Minggu (2/2/2026). Prosesi ini dilaksanakan sebagai rangkaian awal menjelang tasyakuran khitanan putranya, Nur Salam, bersama dua adiknya.
Ritual adat tersebut berlangsung di rumah Tupanrita Ta (Dg. Rasyid), berlokasi di Sileo’ 2, Jalan Permandian Jeknek Tallasak, Desa Paraikatte, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa. Kegiatan ini menjadi bentuk silaturahmi keluarga sekaligus permohonan doa dan restu adat sesuai tradisi Kalabbiranta Butta Gowa.
Ammutuli Pangrita merupakan tradisi sakral yang mengandung makna penghormatan terhadap leluhur, adat istiadat, serta nilai spiritual masyarakat Gowa. Kehadiran keluarga ke rumah Tupanrita Ta dimaknai sebagai ikhtiar adat untuk memohon keselamatan, kelancaran, dan keberkahan atas hajatan keluarga yang akan digelar pada Senin, 9 Februari 2026 mendatang.
Prosesi berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan, mencerminkan kuatnya ikatan sosial serta kepatuhan terhadap nilai-nilai adat yang masih dijaga oleh masyarakat setempat.
Muh. Jufri Dg. Sijaya menyampaikan harapannya agar seluruh rangkaian acara tasyakuran khitanan dapat berjalan dengan baik dan diberkahi.
“Dengan niat yang tulus, doa keluarga, serta restu adat, kami berharap seluruh rangkaian acara dapat berlangsung lancar, aman, dan mendapat keberkahan dari Allah SWT,” ujarnya.
Pelaksanaan tradisi ini menjadi bukti bahwa adat dan budaya lokal tetap relevan dan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat modern, khususnya dalam menjaga identitas, persatuan, serta nilai-nilai spiritual masyarakat Gowa.
Sumber: Muh. Jufri Dg. Sijaya
Penulis: Mj@.19
Editor: Tim Redaksi
