Ternate – Ramadhan kembali mengetuk pintu, Angin tipis menyelinap lewat celah jendela kamar kos yang sempit, membawa aroma hujan yang baru saja reda. Di sudut kamar itu, seorang anak rantau duduk terdiam. Tangannya menggenggam ponsel, menatap foto keluarga kecilnya yang tersimpan di galeri istri dan seorang anak yang selalu ia rindukan setiap detik.
Ramadhan tinggal menghitung jam. Di kampung, mungkin lampu-lampu rumah sudah menyala lebih lama dari biasanya. Ibunya pasti sibuk menyiapkan beras untuk sahur, istrinya mungkin sedang merapikan meja makan sederhana, dan anaknya barangkali tertidur sambil memeluk baju yang biasa ia pakai saat pulang.
Hatinya gelisah. Bukan karena takut menyambut puasa, tetapi karena ia tahu, sahur pertamanya tahun ini tidak akan bersama mereka.
Ia pernah berjanji, “Ramadhan kali ini kita sahur bareng.” Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Pekerjaan yang tak menentu, gaji yang sering terlambat, Aktivitas kuliah terus berjalan dan kebutuhan hidup yang terus mendesak membuatnya harus tetap bertahan di kota perantauan.
Ongkos pulang terasa terlalu mahal dibandingkan dengan kebutuhan dapur yang harus ia kirimkan setiap bulan.
Ia menatap langit malam dari balik jendela. Bulan sabit tampak samar, seolah mengingatkan bahwa bulan suci benar-benar telah tiba. Dalam hatinya, ia berbisik,
“Ya Allah, Engkau tahu rindu ini tak pernah berkurang. Engkau tahu keinginan ini tulus untuk berkumpul bersama keluarga.”
Sahur pertamanya mungkin hanya dengan nasi dan telur yang dimasaknya sendiri. Tidak ada tawa kecil anaknya, tidak ada suara lembut istrinya yang membangunkannya. Hanya suara azan dari masjid kecil di ujung gang dan bunyi sendok yang beradu dengan piring.
Namun di balik kegelisahan itu, ada harapan yang tetap ia peluk erat. Ia percaya, setiap tetes keringat di tanah rantau adalah bentuk perjuangan untuk masa depan keluarganya. Ia percaya, Ramadan bukan hanya tentang kebersamaan fisik, tetapi juga tentang kesabaran dan keteguhan hati.
Malam itu, ia menengadahkan tangan. Air mata yang jatuh bukan tanda kelemahan, melainkan doa yang tak terucap. Ia memohon agar suatu hari nanti, ia bisa menyambut Ramadan tanpa jarak, tanpa sekat ekonomi, tanpa kegelisahan yang membungkam.
Di kejauhan, azan Isya berkumandang. Ia berdiri, mengambil wudu, lalu melangkah menuju masjid dengan hati yang masih berat, tetapi penuh keyakinan.
Karena bagi anak rantau, menjemput Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga tetapi juga menahan rindu, menahan gelisah, dan tetap percaya bahwa setiap pengorbanan akan diganti dengan kebahagiaan yang lebih indah.
Penulis : Iksan kubais
Editor : Afrisal
